I hate deciding.
-
Satu hal penting yang saya pelajari selama menjabat sebagai pengurus OSIS di SMA adalah, bahwa di setiap pilihan selalu ada konsekuensi. More plus, more mines.
Saya benci mengatakan ini namun dengan segenap kelapangan hati saya mengakui kalau saya itu orangnya tidak bisa tegas, labil, dan terlalu banyak pertimbangan. That’s why…
I hate deciding.
-
Selesai menjabat sebagai pengurus, saya mencoba mengaplikasikan nilai-nilai yang saya dapat selama 2 tahun itu, dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya, ya, itu. Konsisten pada pilihan. I do trust my heart, follow the first thing that came up to my mind and i have to make my self ready for all possible things that might happen. Saya sudah mencoba, memberanikan diri, membesarkan hati untuk menerima segala konsekuensi.
Dan sekarang, saya dihadapkan pada that konsukensi yang merupakan imbas dari pilihan yang dulu saya ambil.
Saya sudah bertekad, apapun yang terjadi saya akan tetap bulat, bahkan tekad itu masih memburu dalam setiap langkah yang saya ayun ke tempat dimana saya mendengar konsekuensi tersebut.
Apa bisa dimaklumi kalau saya mengakui, bahwa pilihan yang dulu saya buat itu memang salah, tanpa perhitungan yang matang, dan berjanji jika saya diberi kesempatan lagi untuk memilih, akan lebih baik untuk semua pihak. Meskipun untuk itu saya harus mengalah pada tekad, menjadi pecundang karena lebih memilih aman, menjilat ludah sendiri, mulai dari nol lagi, dan belum tentu pula akan lebih baik kedepannya.
Tapi, jika saya tetap konsekuen, saya benar-benar akan berjudi. Menggantungkan harapan pada orang-orang yang tidak pasti. Bergelut dengan tenggat waktu yang sangat minim. Mengandalkan kemampuan yang masih dibawah rata-rata. Membagi fokus menjadi beberapa bagian. Bertaruh uang yang tidak sedikit pula…
-
Saya sadar, untuk meraih cita-cita,tidak pernah semudah itu. Saya sadar, teori yang meledak-ledak di dalam otak saya juga butuh praktik. Saya sadar, untuk hal-hal diluar logika seperti ini, saya tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali Dia. I depend nobody but Allah.
Well, then, saya mengucapkan selamat datang untuk masalah pertama dalam hidup saya. Kamu kecil!

