1. Erland’s hometown :-)

    Erland’s hometown :-)

  2. "Allah itu menerbitkan dan menenggelamkan matahari jauh lebih susah daripada mengabulkan doa kamu. Mintalah."
    Mom
  3. Everybody needs time for their own selves...

    • Belinda : Nonton sendiri itu asik banget lah
    • Alifa : Ngopi sendiri lah
    • Riri : Apalagi karaoke sendiri harus nyobain banget
  4. Taruhlah umur kita 60 tahun. Dibagi 2, 30. Bayangkan. Dalam 30 tahun pertama, ada banyak banget hal dan achievement yang terjadi sama kita : bisa jalan, bisa bicara, masuk sd, smp, sma, kuliah, dapat kerja, punya pacar, menikah, punya anak. Tapi, setelahnya? Yang terjadi hanya menua, menua, dan menua. 30 tahun-30 tahun loh. Sama lama.

    Setiap pergi berlibur ke rumah nenek, saya selalu tidur dengan beliau. Mendengar cerita-ceritanya, betapa ia sudah 64 tahun menjalani hidup, melewati banyak momentum. Suatu hari, ia menerima telepon. Seorang teman mainnya waktu muda diberitakan meninggal dunia. Pada malam harinya, beliau bercerita betapa dulu ia sangat dekat dengan almarhumah temannya itu. Kalau bahasa anak mudanya sih, satu geng lah. Saya gak bisa membayangkan kalau pada suatu hari saya menerima telepon, dikabarkan bahwa Belinda, atau Riri, teman main saya tiba-tiba meninggal. Teman yang biasanya main toyor-toyoran, ke kantin bareng, tiba-tiba pergi untuk selamanya.

    Kalau saya saling bertelepon untuk mengabari teman yang keterima kuliah disini atau disana, tante saya bertelepon untuk mengabari si ini menikah dengan si anu, nenek saya saling bertelepon tentang si A meninggal hari ini dan si B hari itu. Kalau saya bertukar cerita tentang masalah di sekolah, ibu saya bercerita tentang masalah rumah tangga, kakek saya bertukar cerita tentang masalah kesehatan.

    Betapa momen-momen dalam hidup kita hanya terjadi dan berlalu begitu saja. Sambung menyambung dengan momen lainnya, sampai pada yang terakhir-mati. Salah seorang teman kelas 10 saya pernah bilang, “hidup lurus itu gak rame. Sekolah, belajar, rajin-ga pernah nyontek, keterima kerja, nikah, punya anak, mati, udah”.

    Well, memang itu kan tujuan orang hidup.

    Saya percaya kok, apa yang akan kita dapatkan di 30 tahun paruh kedua, adalah cerminan dari apa yang kita lakukan di 30 tahun paruh pertama. Jadi, mari hidup yang lurus-lurus saja :-)

  5. Welcome

    I hate deciding.

    -

    Satu hal penting yang saya pelajari selama menjabat sebagai pengurus OSIS di SMA adalah, bahwa di setiap pilihan selalu ada konsekuensi. More plus, more mines.

    Saya benci mengatakan ini namun dengan segenap kelapangan hati saya mengakui kalau saya itu orangnya tidak bisa tegas, labil, dan terlalu banyak pertimbangan. That’s why…

    I hate deciding.

    -

    Selesai menjabat sebagai pengurus, saya mencoba mengaplikasikan nilai-nilai yang saya dapat selama 2 tahun itu, dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya, ya, itu. Konsisten pada pilihan. I do trust my heart, follow the first thing that came up to my mind and i have to make my self ready for all possible things that might happen. Saya sudah mencoba, memberanikan diri, membesarkan hati untuk menerima segala konsekuensi.

    Dan sekarang, saya dihadapkan pada that konsukensi yang merupakan imbas dari pilihan yang dulu saya ambil.

    Saya sudah bertekad, apapun yang terjadi saya akan tetap bulat, bahkan tekad itu masih memburu dalam setiap langkah yang saya ayun ke tempat dimana saya mendengar konsekuensi tersebut.

    Apa bisa dimaklumi kalau saya mengakui, bahwa pilihan yang dulu saya buat itu memang salah, tanpa perhitungan yang matang, dan berjanji jika saya diberi kesempatan lagi untuk memilih, akan lebih baik untuk semua pihak. Meskipun untuk itu saya harus mengalah pada tekad, menjadi pecundang karena lebih memilih aman, menjilat ludah sendiri, mulai dari nol lagi, dan belum tentu pula akan lebih baik kedepannya.

    Tapi, jika saya tetap konsekuen, saya benar-benar akan berjudi. Menggantungkan harapan pada orang-orang yang tidak pasti. Bergelut dengan tenggat waktu yang sangat minim. Mengandalkan kemampuan yang masih dibawah rata-rata. Membagi fokus menjadi beberapa bagian. Bertaruh uang yang tidak sedikit pula…

    -

    Saya sadar, untuk meraih cita-cita,tidak pernah semudah itu. Saya sadar, teori yang meledak-ledak di dalam otak saya juga butuh praktik. Saya sadar, untuk hal-hal diluar logika seperti ini, saya tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali Dia. I depend nobody but Allah.

    Well, then, saya mengucapkan selamat datang untuk masalah pertama dalam hidup saya. Kamu kecil!

  6. "Kita tidak selalu membutuhkan seseorang yang mempunyai pemikiran sama untuk dapat nyambung dengan kita. Terkadang, yang dibutuhkan hanya seseorang dengan argumen kuat untuk mendukung setiap pemikirannya. Yang mampu membuat kita manggut-manggut, menimbang ulang, dan berkata, ‘iya juga sih’"
    Sandra Amalliani, dengan perubahan
  7. Friday Night.

    Kalau ada yang lebih sedikit dari sisa, apa ya… Ampas? Atau apa?

    Mungkin itu yang bisa menggambarkan kondisi semangat saya saat ini. Tinggal ampas. Semua semangat sudah dikerahkan habis. Kalau beberapa waktu lalu saya pernah ikut seminar motivasi gratis di sebuah hotel ternama, dimana si Miss motivator bilang “banyak anak yang gagal karena tidak tahu apa yang benar-benar ia inginkan”, ya. Saya ada di titik itu. Saya tidak tahu pasti apa yang saya inginkan. Saya merasa terlalu banyak yang ingin saya raih.

    Bicara tentang hal yang ingin saya inginkan…

    …saya ingin melihat dunia. Saya ingin mengembangkan wawasan. Visit more places, meet more peoples, taste more foods. Saya ingin merasakan hidup susah, mandiri. Saya ingin berada dalam keadaan, where i depend no one but God. Saya ingin merasakan kesulitan finansial. Double-multi-tasking. Dengan kondisi fisik yang lemah, perut yang lapar, terjebak dalam cuaca buruk. Dikelilingi orang asing. Jauh dari keluarga, sahabat, dan rumah. Meskipun saya sudah keduluan oleh Merry Riana, tidak apa. Saya tetap ingin melakukannya.

    Kalau dulu Ibu saya pernah bilang, “ngapain kamu kuliah kalau masih dekat-dekat orangtua”, ternyata ada benarnya juga. Di rumah beberapa hari saja ritme hidup saya sudah sangat buruk. Ya… saya tidak bisa menyalahkan lingkungan juga sih. Saya mengerti maksud Ibu saya. Mungkin, maksud beliau, untuk tipikalslackerseperti saya, tinggal selamanya di rumah bukanlah pilihan yang bagus.

    Untuk saat ini, bener-bener deh saya gak akan expect anything. Just plan to be surprised. Semoga bisa kosisten, disiplin jangan kendur (gampang banget ya bicara). Semoga hidayah-hidayah bermunculan.

    Sekarang saya mengerti kenapa harga tiket di poster/iklan seminar motivasi selalu ditulis dengan kata “investasi”. Lebih mengerti lagi kenapa banyak orang yang rela membayar mahal untuk “investasi” non-material begitu. Ah, butuh suntikan semangat.

  8. Want swing upon that hammock and share some stories, again…

ranumba:
3 friends…..with different stories but still connecting each other hahahahaha silly

    Want swing upon that hammock and share some stories, again…

    ranumba:

    3 friends…..with different stories but still connecting each other hahahahaha silly

  9. [Flash 9 is required to listen to audio.]

    :-)

    Title
    3 Hari Untuk Selamanya
    Artist
    Float
    Album
    OST 3 Hari Untuk Selamanya
  10. On our way back to home

    • Me : Eh, besok mau pada sekolah ga?

About me

Alifa Taqiyyaa : Abstract minded. Excitable. Bookworm.

Likes